Berada di antara perbukitan, jalan menuju Batutumongga tidaklah dapat dikatakan mulus. Jalur yang mendaki dan berkelok adalah tantangan tersendiri yang harus Anda hadapi sebelum dapat menikmati keindahan alam Rantepao dari ketinggian Gunung Sesean.
Sepanjang perjalanan, pemandangan tropis yang indah permai akan menyejukkan mata Anda. Setibanya di Batutumongga, pemandangan alam berupa bentang persawahan yang hijau dapat dinikmati di bulan Maret dan April. Apabila tidak ingin melewatkan hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning maka datanglah ke Batutumongga di bulan Juli atau Agustus.
Nikmati keindahan yang spektakuler tersebut di kedai-kedai kopi yang terdapat di Batutumongga. Beberapa kedai kopi memiliki titik strategis untuk membuat Anda bersyukur dan beruntung dapat menikmati eksotisme alam tropis Toraja dari atas.
Batutumongga berada sekira 2 km atau 30 menit berjalan kaki dari Lokomata. Di Lokomata, selain dapat menyaksikan kehidupan tradisional masyarakat pedesaan Toraja, kubur-kubur di batu-batu raksasa juga terlihat di beberapa titik di tepi jalan. Batu-batu raksasa yang dilubangi untuk menyimpan jenazah kerabat tersebut bahkan terletak di pinggir jalan raya, menyuguhkan pemandangan berbeda dari kuburan di tebing batu serupa
Londa dan
Lemo.
Masih di kawasan Gunung Sesean, dapat pula Anda mengunjungi Bori. Rante (sebutan bagi tempat upacara pemakaman) adalah objek wisata andalan dan utama di Bori. Di Rante, terdapat batu menhir atau megalit berjumlah sekira 102 dengan ukuran yang bervariasi; 24 menhir berukuran besar, 24 sedang dan 54 menhir lainnya berukuran relatif kecil.
Keberadaan batu menhir di lokasi ini adalah untuk menghormati pemuka masyarakat yang meninggal dunia. Tapi tidak sembarang orang dapat dibuatkan menhir atau biasa disebut simbuang batu ini. Simbuang batu hanya dibuat bagi mereka yang memenuhi tingkat Rapasan Sapurandanan, yaitu keadaan dimana kerbau yang dipotong pada upacara penguburannya minimal 24 ekor.
Tradisi membuat simbuang batu ini telah dipraktekkan sejak ratusan tahun lalu. Berdasarkan catatan, Bori pertama kali dijadikan lokasi upacara pada 1657. Saat itu kabarnya sekira 100 ekor kerbau dikorbankan dan dua simbuang batu didirikan dalam upacara pemakaman Ne’Ramba’. Di tahun 1807, sekira 200 ekor kerbau dikorbankan dan 5 buah simbuang batu didirikan pada acara pemakaman Tonapa Ne’Padda’. Menhir terbesar dan tertinggi di kawasan ini konon didirikan tahun 1935 pada upacara pemakaman Lai Datu (Ne’ Kase’). Menhir terakhir yang didirikan di Bori tercatat di tahun 1962 pada upacara pemakaman Sa’pang (Ne’Lai).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar